Postingan

Menampilkan postingan dengan label keluarga

Aku dan Kakakku 3 - Intermezzo

Gambar
Andaikan lampu Aladin itu nyata, satu hal yang kuminta pada jin adalah masuk ke dalam pikiranmu. Agar aku mampu menyelami, dunia seperti apa yang kau lihat. Terpenjarakah kau di jeruji autisme itu atau terbebaskankah kau jauh dari penat dunia nyata? Tenggelamkah kau di duniamu itu? Atau terbangkah kau membawa mainan favoritmu? Andaikan jin itu memberiku tiga permohonan untuk kuminta, pinta keduaku adalah supaya kau mampu berbahasa dan sebut namaku. Entah saat aku menyuapimu, memandikanmu, atau memutar musik kesukaanmu. Mengatakan padaku bahwa aku ini adikmu, memarahiku karena keterlaluanku tingkahku padamu, atau menggodaku usil saat ada pemuda datang mengencaniku. Permohonan terakhir pada jin akan kuhabiskan untuk membuatmu mengerti kata-kataku.  Wahai jin, buatlah kakakku mengerti ucapku, hanya dua patah kata. Untuk kakakku, mengertilah kata maaf dan terima kasih. Maaf atas tak sabarku dan kesewenang-wenanganku padamu. Dan terima kasih karena telah menjadi kakakku yang meng...

Flashback Au Pair, Setelah Ini

Satu tahun di Jerman pastinya banyak sekali pengalaman yang aku dapat. Sebenarnya sih gatel gitu pengen cerita-cerita ke semuanya, tapi kok ya...hmm..karena satu dan lain hal bloggingnya agak macet gitu. Nah, setelah ini, aku berjanji (pada diri sendiri) bakalan merapikan jurnal dan menuangkannya dalam tulisan yang lebih rapi dan layak baca. Tagihlah kalau tidak segera terealisasi. Aku akan senang dengan tagihannya. Haha... Di Jerman sudah musim panas lagi, sama seperti musim kedatanganku tahun lalu. Jadi lebih enak nih nulisnya, pengalamanku akan aku tulis sesuai kronologi musim. Semoga menjadi tulisan yang menginspirasi nantinya. Semangat!

a little StORRY from a little girl...I love u Mom

November, fifty-one years ago God decided to make a lovely and pure woman to come to this unexplainable world in her early age,she learned to be closer to the universe tried to understand the warmth of sun and the flow of water anxious to see the color of rainbow and the twinkle of stars bravely looking for the view of nature in her teen-age, she encouraged herself to find who the real she is rebel her environment with her own egoism found out the reality which wasn't as pink as her drawing book trying something new when people said that you were coward starting to know what the pain and wound are in her twenties, she had to face a hard thing named responsible got the demands from all the environment pressed by a must that she had to make all decisions be ready to opened the new act of her life in her thirties, she was a mother who had the gracest heart among mothers patiently wash every tears come out from her little children told every story she known and sang every stanza she lo...

Keluarga Baru – Keluarga Jerman

“Herzlich Ajeng Wilkommen!” adalah kalimat yang tertulis di poster buatan sendiri oleh anak-anak di keluarga yang akan aku tinggali di Jerman. Sambutannya begitu hangat! Karena satu dan lain hal, sayangnya aku tidak bisa menyebutkan nama anggota keluarga tempat aku tinggal. Karena itu mulai dari sini, aku akan menggunakan istilah Mami, Papi, si Sulung, dan si Bungsu. Jadi, Mami dan si Bungsu menjemputku di bandara Frankfurt. Mami sangat cantik, terlihat lebih muda dari umurnya yang sebenarnya. Si Bungsu adalah gadis kecil yang sangat manis. Matanya cerah, ceria, bulat, dan jernih. Keduanya berambut pirang indah. Walaupun sudah berkorespondensi lama dengan Mami, tapi hari itu, 27 Juli 2013 adalah pertama kalinya kami bertatap muka secara langsung. Kesan pertama sangat menyenangkan :) Kesan kedua, di parkiran, begitu mencengangkan. Secara aku bukan orang kaya gitu ya, jadi kalau tiba-tiba dijemput di bandara menggunakan mobil Mercy AvantGrade...

Aku dan Kakakku 2

“Kenapa selalu dia?“ Ada masanya pertanyaan ini selalu terlintas di kepalaku. Dialah yang nomor satu di mata orang tuaku. Dialah yang   harus   selalu diutamakan. Akulah yang   harus   selalu mengalah. Akulah yang   perlu   selalu mendendam. Semantara dia? Dia dengan bahagia membangkang setiap perlakuan orang tuaku padanya. Seperti serigala mengibas-ibaskan ekornya di puncak bukit kala purnama. Tak peduli. Saat aku berusia 5 tahun, aku memulai masa sekolah pertamaku di Taman Kanak-kanak. Jika aku ingat-ingat lagi, pertanyaan ini selalu terlontar dari mulutku: “Mas Jarot kok nggak sekolah” Dan ayah atau ibuku menjawab: “ Mas Jarot   ndak   bisa sekolah, sakit.” Doktrin itulah yang selalu aku pegang dan aku percayai. Kakakku sakit. Kakakku sakit sehingga tidak bisa masuk sekolah. Saat mencamkan kenyataan itu, kakakku berlari-lari dengan riangnya, memainkan roda sepeda roda tiga yang rusak, tepatnya d...

Aku dan Kakakku 1

Aku anak bungsu dari 3 bersaudara, kedua kakakku laki-laki. Yang ingin aku ceritakan di sini adalah kakak pertamaku. Ada kurang lebih beberapa puluh alasan kenapa aku ingin menulis tentang dia. Sekali lagi, tentang dia. Ini bukan cerita tentang aku. Karena banyaknya hal yang ingin aku ceritakan, mustahil menyelesaikannya hanya dalam satu post  saja. Anggap saja ini sebuah memoir bersambung yang entah kapan akan berakhir, karena aku sendiri tak tahu batasan cerita ini. Saat aku berusaha mengingat-ingat lagi, kenangan tentangnya berawal dari genting rumahku. Dalam bayanganku, umurku baru empat tahun. Entah kenapa, itulah ingatan tertua yang mampu aku ingat tentang betapa uniknya kakakku ini. Waktu itu aku belum mengerti dan menganggap kebiasaan kakakku yang suka memanjat tempat-tempat yang tinggi itu sangat lucu. Waktu itu aku juga belum bisa bicara, jadi aku berpikir wajar saja kalau kakakku itu juga tidak berbicara apapun padaku, meskipun orang-orang dewasa di sekitarku se...

Buat Rambo

Gambar
Rambo. Mboo.... Rambo warnanya putih...semburat coklat muda atau krem ada di beberapa bagian tubuhnya. Rambo itu unik...dia tidak punya ekor, tapi ketika sedang gembira, sebagai ganti ekor, pantatnya bergoyang-goyang lucu sekali. Rambo itu lucu...cara tidurnya tengkurap seperti posisi Superman sedang terbang, memperlihatkan telapak kaki belakangnya ke atas. Rambo itu pintar...dia mengambil bola yang aku lempar dan mengembalikannya kepadaku dengan riang. Rambo itu menggemaskan...ketika dimarahi, dia akan otomatis tiarap dan menggonggong sekuat tenaga, padahal suara itu bukannya mengerikan, malah sangat lucu. Rambo itu mempesona...siapa yang tidak akan bilang dia lucu, cakep, ganteng, imut, dan sebagainya? Rambo itu masih sangat kecil, ketika kami teledor dan terlambat memberinya vaksin untuk parvo. Rambo berumur 4 bulan 20 hari ketika dia menutup mata untuk selamanya. Singkat. Sangaaaaaaatt singkat...tapi kebahagiaan yang diberikannya sangaaatttt besar. Mboo....