Postingan

Menampilkan postingan dengan label family

Aku dan Kakakku 3 - Intermezzo

Gambar
Andaikan lampu Aladin itu nyata, satu hal yang kuminta pada jin adalah masuk ke dalam pikiranmu. Agar aku mampu menyelami, dunia seperti apa yang kau lihat. Terpenjarakah kau di jeruji autisme itu atau terbebaskankah kau jauh dari penat dunia nyata? Tenggelamkah kau di duniamu itu? Atau terbangkah kau membawa mainan favoritmu? Andaikan jin itu memberiku tiga permohonan untuk kuminta, pinta keduaku adalah supaya kau mampu berbahasa dan sebut namaku. Entah saat aku menyuapimu, memandikanmu, atau memutar musik kesukaanmu. Mengatakan padaku bahwa aku ini adikmu, memarahiku karena keterlaluanku tingkahku padamu, atau menggodaku usil saat ada pemuda datang mengencaniku. Permohonan terakhir pada jin akan kuhabiskan untuk membuatmu mengerti kata-kataku.  Wahai jin, buatlah kakakku mengerti ucapku, hanya dua patah kata. Untuk kakakku, mengertilah kata maaf dan terima kasih. Maaf atas tak sabarku dan kesewenang-wenanganku padamu. Dan terima kasih karena telah menjadi kakakku yang meng...

Aku Kecil

Gambar
Bagiku, tak ada penjabaran masa kanak-kanak yang lebih baik dari puisi Edna St. Vincent Milley, " Childhood is the Kingdom Where Nobody Dies ." Secara ajaib, anak-anak memberi kehidupan pada sembarang yang tertangkap matanya, tak mengenal kematian. Masa kecilku pun begitu magis. Aku membentuk dua sosok kawan dari udara, nama mereka Atin dan Aton. Mereka selalu bertengkar, Atin mendorongku melakukan hal-hal baik, sedang Aton adalah sosok yang nakal. Mereka selalu bersamaku. Setiap pagi saat bangun tidur, saat ibu membangunkan aku untuk pergi ke taman kanak-kanak, Atin mendukung ibu dan Aton memaksaku tidur kembali. Jangan salah, tak selamanya Atin menang. Terkadang aku lebih mendengarkan Aton, karena apa yang disarankannya selalu asyik dilakukan. Seperti jajan permen tak sehat yang bisa mewarnai mulut sampai dimarahi Bu Pur, guru TK ku, atau memukul kawan sepermainanku saat mereka tak meminjamiku mobil-mobil  hot wheels mereka yang baru. " Tomorrow, or even the day after ...

Bapak

"Sol sepatuku mangap. Dibilang buaya lapar sama teman-teman." Dia tak bereaksi, masih memandang lurus ke TV hitam putih, acara Dunia Dalam Berita yang wajib ditontonnya setiap hari. Aku tertunduk sedih. Meletakkan sepatu laparku di lantai, lalu pergi keluar, ikutan bermain kasti bersama anak-anak tetangga. Esok paginya, kutemukan sepatuku mengganjal meja dengan posisi ganjil. Kuambil sepatu itu, kukenakan tanpa kata-kata. Sepatuku tak lagi lapar, dia sudah makan selai nanas. Lem castol. Tanpa sepatah katapun, aku membonceng sepeda yang dikayuhnya, ke sekolah yang berjarak 3 km. Dia mengayuh hanya untuk mengantarku, setelah itu kembalilah dia menelusuri jalan yang sama. Tempatnya mengajar hanya berjarak 100m dari rumah. "Bu Guru bilang kalau mau ikut lomba senam harus bayar seragam tujuh ribu lima ratus rupiah." Dia diam saja. Masih tenggelam dalam Dunia Dalam Berita. Aku tertunduk. Meninggalkan brosur lomba senam di meja. Lalu pergi keluar, hari ini agendanya bermai...